Rabu, 02 April 2014

Kisah dari Kota Minyak Pekan Baru


Kisah dari Kota Minyak  Pekan Baru Pekan Baru yang terletak di Provinsi Riau, dikenal juga sebagai kota minyak. Kota ini punya kisah panjang dari Kerajaan Siak Sri Indrapura. Salah satu dari kisah rakyat yang memasyarakat adalah kisah "Sultan Mahmud Mangkat Dijulang". Tengku Fuad Alzakiyat Azhar, guru besar dan pendiri Perguruan Pencak Silat "Mutiara Panca Rasa" yang juga keturunan dari Kerajaan Siak Sri Indrapura, menceritakannya kembali secara ringkas sebagai berikut:
Kira - kira pada abad ke - 12 Masehi, penyiaran Agama Islam sudah memasuki Semananjung Malaka, Aceh, Sumatra Timur, dan  Riau, dll.
Syahdan, yang berkuasa saat itu di Kerajaan Siak Sri Indrapura adalah  Sultan Mahmud. Panglima atau hulubalang kerajan adalah dua orang pendekar sakti kakak beradik yaitu, Panglima Megat Sri Rama (kakak) beragama Hindu, dan Panglima Wahab  (adik) beragama Islam. Konon Sultan Mahmud (Islam), semasa hayatnya adalah seorang Raja yang sakti,  beliau sangat disegani oleh seluruh rakyatnya dan ditakuti oleh musuh-musuhnya. Raja ini kebal terhadap semua senjata tajam apabila kakinya menginjak tanah. Beliau dapat berjalan diatas sungai/laut, dan kendaraanya adalah seekor harimau. Sampai sekarang ini, orang-orang Siak Sri Indrapura menyebut mahluk itu adalah "Harimau Tengkes ".

Harimau tengkes artinya adalah harimau yang pincang kaki kiri bagian belakangnya. Konon menurut cerita, harimau ini pernah berbuat salah pada Sultan sehingga Sultan menghukumnya dengan memukul kaki kiri binatang tersebut hingga pincang. Binatang ini selalu telihat oleh orang-orang pintar pada saat hari ulang tahun penobatan Sultan-Sultan yang meneruskan tampuk kerajaan. Katanya harimau itu menangis karena teringat pada yang dipertuannya. Harimau itu juga sering terlihat didaerah makam Sultan Mahmud yang berada dikampung Gasip, kira-kira 5 Km dari Siak Sri Indrapura.
Demikianlah Kerajaan ini berjaya dari abad ke abad pada setiap dinastinya, dari keturunan Raja - raja ini selalu ada Imam / Qodhi sebagai Hakim Islam. Sultan Abdul Jalil Rahmatsyah dalam dinastinya menurunkan  12 Raja-raja besar, yang selalu didampingi oleh Imam - imamnya secara turun - temurun. Diantara Raja - raja besar yang terkenal hingga zaman penjajahan Belanda adalah :
Sultan Syarif Qosyim, yaitu Raja yang ke XII dari Dynasti Sultan Jalil Rahmatsyah. Istana-Nya bernama "AL - HASYIMIYAH". Istana tersebut sampai sekarang masih berdiri megah ditepian sungai  Siak, Pekan Baru, Riau. Pada saat Perang Kemerdekaan Indonesia, Raja Siak-lah yang pertama mengakui kemerdekaan Indonesia, Terbukti dengan telah diserahkannya mahkota kerajaan oleh Raja yang terakhir yaitu Sultan Syarif Qosyim kepada Pemerintah Republik Indonesia yang sah, dan digunakan sebagai sarana perjuangan bangsa Indonesia. Sultan juga membuatkan lapangan terbang Simpang Tiga di Pekan Baru, Riau. Sebuah mobil sedan dan uang tunai sebesar 135.000 Gulden juga diberikan Sultan dengan ikhlas. Selain itu memang telah ada sebelumnya sebuah  surat wasiat dari kakeknya yaitu Sultan yang ke - X, kemudian diteruskan pada anaknya yaitu Sultan yang ke - XI, isinya antara lain:
" JIKA  SUATU  SAAT  NEGRI  NUSANTARA INI  MERDEKA  ,
TUNDUKLAH  KEPADA  PEMERINTAH YANG SAH, DAN  YANG  BERDAULAT."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar